Jumat, 05 Juni 2009

Leaving 3

..... Leaving
......Leaving 2



Setelah bersama Dony dan Mbak’nya, tiba saatnya kami berpisah...mereka akan melanjutkan ”meng-estafet-kan” seorang afdhal ke orang lain dikota ini.


Episode Mas Faisal,
Akhirnya setelah mas dony dan mbak’nya mencari tahu dimana letak Jalan Balapan, mereka mengantarkanku kepada seseorang untuk melanjutkan ”tongkat estafet”.
Mas Faisal, tidak ada hubungan saudara denganku. Orang tuanya di jayapura kebetulan kenal dekat dengan orang tuaku. Mas faisal ini sudah lama berada dijogja untuk menuntut ilmu, disalah satu universitas negeri dikota ini.
Saat dijayapura, aku sempat beberapa kali bertemu dengan mas faisal ini, walaupun dulu tidak begitu kenal, sekarang mau tidak mau aku harus akrab dengan dia.
Beberapa minggu kedepan aku akan tinggal bersama Mas faisal didalam kamar kos’nya yang kecil.

Bersama mas faisal, aku benar-benar harus hidup mandiri, makan harus cari sendiri, cuci baju sendiri. Tapi yang sangat berkesan adalah aku harus siap menerima “tendangan” kaki mas faisal tiap subuh. Kos yang berada didekat masjid ini membuat mas faisal selalu melaksanakan sholat wajib di Masjid, dan tiap subuh mas faisal selalu melaksanakan sholat subuh dimasjid, dan dia tidak pernah mau membangunkanku serta mengajakku sholat ke masjid, tapi setiap pulang dari masjid dia selalu membangunkanku dengan “menendang-nendang kakiku”

Mas Faisal adalah penganut salah satu aliran agama islam, namanya Ji’Ai (samaran). Pergaulannya lebih banyak dengan teman-teman sesama penganut aliran ini, yang kebetulan kebanyakan adalah orang-orang dari negeri tetangga, Malaysia. Mas faisal selain sibuk dengan aktifitas kuliahnya juga sibuk mengurusi aktivitas Dak’wahnya. Beberapa kali teman-teman mas faisal sering berkunjung ke kos, dan sempat beberapa dari mereka mengajakku untuk mengikuti aktivitas dakwah keliling dari masjid ke masjid. Terbersit keinginanku untukk mengikutinya dan meng-iya’kan ajakan mereka. Tapi Mas Faisal menolakknya, dan mengatakan kepadaku bahwa dia merasa bertanggungjawab kepada orang tua’ku dengan alasan dia tidak mau melibatkan aku lebih dalam urusan ini.

Karena Aktivitas Dakwah’nya, seringkali mas faisal tidak pulang ke kos. Untuk itulah aku harus benar-benar mandiri. Seorang anak bungsu berusia 15 Tahun yang baru pertama kali merantau, jauh dari orang tua harus mengerjakan segala sesuatu dengan sendiri. Untungnya Jalan Balapan tempat kos mas faisal ini sangat dekat dengan jalan Urip Sumoharjo Jogja (Jalan Solo), jadi untuk mengisi waktu aku lebih sering berjalan sendiri dan bermain di salah satu Mall di Jalan Solo ini (dan tentunya membiasakan diri menaiki eskalator)

Disela-sela aktivitas rutinku, bermain dijalan solo, membeli koran hanya untuk melihat jadwal kloter kepulangan jamaah haji (tidak sabar rasanya mendengar suara mama) Akhirnya rasa sepi dan rasa bosan menghampiriku.
Kuputuskan untuk menuliskan surat rindu kepada ayah. Surat 3 halaman dari seorang bungsu yang kesepian, yang merindukan kebersamaan dengan orang tua. Surat ini kutuliskan dengan berlinang air mata.
Beberapa hari kemudian balasan surat dari ayah datang. Surat ayah ini mampu membuat hatiku tenang. Surat yang berisi petuah, nasehat, puisi dan petikan ayat Al Qur’an semakin membuatku tegar untuk menghadapi hari-hari tersisa.


Beberapa minggu berada Di Kos Mas Faisal, tidak terasa sebentar lagi akan tiba saatnya memasuki sekolah baru, dan saatnya pindah ke persinggahan selanjutnya...

14 komentar:

yessy muchtar mengatakan...

Harusnya lo attach surat sepanjang 3 halaman yang di tulis seorang anak bungsu berumur 15 tahun itu Al...

Gimana siy?!?!


Gak asik ah!!! *tetep*

*Dasar bungsu! * (teteppp)

Ikkyu_san a.k.a imelda mengatakan...

wahh... meskipun aku umur 12 udah bisa masak sendiri
umur 9 tahun udah bisa bantu mama urus andy, adik terkecil...
seandainya aku 15 tahun musti merantau sendiri....
ngeri juga yah
hebat kamu Afdhal

EM

Alberto-the bro neo- mengatakan...

Kang kok waktu itu gak bilang bilang sih... kan bisa numpang di tempat ku he..he...

hmmmm... mulai menarik neh mengikuti masa remaja afdhal :-)

jalan solo tahun sgitu... hemmm pasti ke.. itu mah bukan mall atuh

Lala Purwono mengatakan...

You know what, Al
Baca serial "Leaving" memperlihatkan jelas the real Afdhal. Ada emosi dalam setiap huruf, and I can see it very clearly.
You maybe tough, Al, but you're sensitive inside.
*ditunggu cerita-cerita selanjutnya*

THE AFDHAL mengatakan...

@ Yessy :
soal surat mah itu komsumsi pribadi..mau tauuuu aja bawelll

@ EM :
yup, banyak hikmahnya nih, walaupun agak nekat :)

@BroNeo :
yeee itu mah namanya MALL...catett MALL (bagi orang udik seperti saya lho) hehehe...

@ Lala :
Ya gitu deh...hmm spechless :)

ceritaeka mengatakan...

Suratnya kayak apaaa....?
Nagis2 bombay ya?
ato mengadu domba antara mas faisal dan bapak ?

kayak apaaa...??? :)

julie mengatakan...

ini cerita apa kek mana bro?
*garuk-garuk pala

Tuti Nonka mengatakan...

Wah, kenapa waktu itu nggak ngontak saya? Saya seneng lho kalau punya anak asuh brondong ... hihihi ...

Kapan ke Yogya lagi? Sekarang di Jalan Solo sudah ada mall beneran.

vizon mengatakan...

aku dulu merantau di umur 12 tahun. tapi, di pesantren yg nyaris lebih "aman" ketimbang di alam bebas seperti yang dirimu lalui...

aku mulai merantau di alam bebas ketika kuliah. terasa gamang ketika awal2 melaluinya... dirimu, di umur 15 tahun, sudah merantau di alam bebas, salut...!

wilbertsitu mengatakan...

pengalaman yang manarik punya pribadi yang mandiri, smoga sukses yaaa

salam.

DM mengatakan...

Aku jadi lebih mengenal dirimu, Bro.

Tapi, geli mbaca komentarnya Bu Tuti Nonka :)

Myryani mengatakan...

hmmm,, kerennnnn,,,

Muzda mengatakan...

Aku baru merapel serial "Leaving"

Maaf Bang, aku baru baca.. dan sejak Kencan, aku melihat sisi sensitif-mu.
Dasar bungsu..

hahaa.. Hebat ya, aku merantau sendiri ke Jogja pas umur 18, sudah lebih besar dari Abang waktu itu.
:D

THE AFDHAL mengatakan...

Eka :
suratnya tuh berisi betapa si bungsu merasa sendiri disini

julie:
sapa ya? masuk kok pake salam...silahkan keramas dulu, tuh kasihan kepalanya gatal2

tutinonka :
waduh, kalo tau nomor dan alamat ibu..pasti sudah meluncur kesono..ke jogja mah sering banget bu :)

Uda :
makassihh uda, untungnya merantau di jogja...coba dijakarta, wah gak kebayang menderitanya diriku

DM :
tenkyu...aku yang belum mengenal dirimu bro :)

Myryani :
Makasihhh....salam kenal

Bang wilbert:
sukses juga bang...

muzda :
wah sama-sama perantau juga donk...hmm waktu kamu umur 18, aku umur berapa ya??