Senin, 06 April 2009

Beautiful Borneo (My Capture ;3)

Kumala Island & Pampang Village



Mumpung libur agak panjang, dan bosen di. Balikpapan yang makin hari makin kecil mengkerut dan muahalll…hari ini aku akan mulai melalui perjalanan panjang sejauh 130 KM lebih menuju tenggarong.
Tujuanku kali ini adalah berlibur…benar-benar berlibur, bukan dalam rangka pekerjaan kantor, (seperti di sini dan sini )
Tempat yang dituju kali ini adalah tempat yang biasa kulewati untuk perjalanan dinas, tapoi sayang tidak sempat kudatangi.
Perjalanan hampir 4 jam ini kulalui melewati bukit soeharto dan mampir sebentar untuk ber”narsis” ria di Stadion Utama Kaltim yang baru2 ini dipakai untuk perhelatan PON (yang konon akan menjadi tempat bertandingnya MU melawan TimNas Indonesia dalam waktu dekat)





Untuk menuju kota tenggarong kami harus melewati kota samarinda terlebih dahulu.
Namanya Pulau kumala, berada tepat dijantung kota tenggarong kabupaten kutai kartanegara. Pulau ini tepatnya di tengah aliran sungai Mahakam yang membelah kota Tenggarong, Pada awalnya pulau dengan luas hampir 82 Ha ini akan menjadi Dufan’nya Kalimantan. Konon setelah pulau ini jadi, didatangkan konsultan dari Ancol untuk membangun fasilitas2 didalamnya. Didalamnya kita bisa menemukan beberapa permainan jet clotser, bombom car, komedi putar dan gocart dll dan fasilitas lainnya seperti sky tower, beberapa rumah adat dayak dll
Tapi sayang semua ini sudah tidak bisa kita nikmati. Sejak Bupati Kutai Kartanegara tertangkap KPK dengan kasus korupsinya, maintenance untuk semua yang ada dipulau ini sangat-sangat kurang.

Untuk mencapai ke pulau ini ada 2 cara yaitu melalui kereta gantung (cable car) dan perahu kecil (ketinting), pengen rasanya bisa menumpang cable car, tapi sayang sejak kejadian macetnya cable car ditengah jalan tahun lalu, alat ini tidak tidak dioperasikan lagi, maka dengan menumpang kapal ketinting dari pelabuhan kecil tenggarong kami menyeberang menuju dermaga pulau kumala.
Dari pelabuhan kami tidak langsung menuju dermaga pulau kumala, tapi meminta sang driver untuk mengelilingi pulau kumala dari sungai saja, sambil bernarsis ria






Sesampainya di dermaga pulau kumala, tetep narsis dulu :)


Tapi sayang, kedatanganku terlalu sore, sehingga beberapa objek di pulau kumala sudah tutup dan beberapa karyawan sudah pulang, untungnya aku tidak sendiri, masih ada beberapa wisatawan local lainnya yang juga baru datang. Akhirnya dengan menumpang mobil wisata yang sudah butut kami diajak keliling

Memang tidak banyak yang kami kunjungi di pulau kumala ini, tujuan utama kami adalah mendokumentasikan Patung Lembuswana. Patung ini adalah symbol kota tenggarong, patung yang dibangun oleh pematung terkenal dari bali Nyoman Nuarta. Patung lembuswana ini berbadan lembu, bersayap dan mempunyai belalai seperti gajah. Konon lembuswana adalah kendaraan mistis dari raja kutai kartanegara, dan konon juga masih sering menampakkan diri di sungai Mahakam (pertanda bahwa dikerajaan kutai sedang ada musibah)


Sejarah munculnya pulau ini juga bermacam-macam versi, konon pulau ini hanya tumpukan pasir dan tanah yang ditumbuhi tumbuhan liar dan binatang liar, selanjutnya karena sungai Mahakam juga sering dilewati kapal, maka untuk memperlancar maka dikeruklah sungai itu, dan hasil kerukan sungai ditumpuk di tumpukan pasir-tanah tadi.
Versi lain menyebutkan bahwa pulau kumala ini terbentuk oleh kapal perang Inggris yang ditenggelamkan pasukan perang kerajaan kutai saat Inggris menyerang kutai dalam rangka invasi perdagangan. Kapal perang ini konon tenggelam tahun 1884. karena kapal yang besar ini, maka terbentuklah tanah2 yang mengendap dan membentuk sebuah pulau.
Pulau ini dibangun pada tahun 2002, sebagai kabupaten terkaya diindonesia, biaya sekitar 40 Trilliun terasa sedikit bagi kabupaten tenggarong untuk mewujudkan Ancol’nya Kalimantan.
Sayang memang, saat kami datang, kami tidak bisa menikmati keindahan pulau kumala, walaupun begitu aku cukup puas melihat sisa-sisa keindahan pulau kumala. Yang kusesali Cuma satu, yaitu tidak dapat mengunjungi Aquarium Raksasa yang ada Pesut Mahakam, lumba-lumba air tawar yang hanya ada disungai Mahakam, cina dan brazil..mudah2an kunjungan berikutnya aku bisa melihat si pesut ini.
Sebelum kembali ke kota samarinda, mejeng dulu di jembatan kota tenggarong yang panjangannya hampir 800 meter dan sangat indah diwaktu malam

beberapa gambar dari google



Setelah menginap semalam di samarinda, besoknya aku meluncur ke sebuah desa dayak. Desa ini terletak diantara kota samarinda dan Bontang. Perjalanan kami tempuh tidak sampai 1 jam. Namanya Desa Pampang.
Desa adat dayak yang terbuka untuk umum. Saat kami datang memang bukan hari sabtu-minggu, jadi agak sepi dari wisatawan. Beberaa toko souvenir juga tutup. Saat kami mampir disalah satu toko souvenir disana, kami mendapat info dari pemilik toko, bahwa hari itu ada kunjungan khusus tamu dari Balikpapan, jadi sebentar lagi, masyarakat desa akan berkumpul dirumah adat (rumah lamin; yang terbuat dari kayu ulin dan beratap sirap;kepingan kayudan berlukis warna khas suku dayak) dalam rangka upacara adat penyambutan tamu. Untuk itu kami segera nongkrong dirumah adat lamin. Tidak beberapa lama, beberapa warga dengan baju adat khas dayak mulai berdatangan.




Desa Pampang ini dihuni sekitar 1000 jiwa penduduk yang merupakan keturunan Dayak Kenyah (tepatnya dari Desa long Liis Kabupaten Bulungan). Desa ini sengaja dikembangkan oleh pemerintah kota samarinda sejak 1973 sebagai desa wisata.



Beberapa pemuka adat yang kumpul duluan, mulai meneriakkan panggilan melalui TOA kepada warga untuk kumpul, mereka membagi tugas, para pemain musik mulai me’nyetem alat musik masing2, para penari yang terdiri dari anak2 kecil mulai berlatih, dan beberapa warga lainnya mulai membuka lapak untuk dijadikan pasar tiban didalam rumah adat itu, dan menggelar dagangan seperti tas, gelang, tikar, topi berwarna-warni, mandau, belayat (tas punggung), kalung, anjat (keranjang rotan untuk ke ladang dan berburu).



Sambil foto2 utk mengabadikan moment persiapan upacara penyambutan ini, aku meminta ijin untuk foto bareng dengan salah satu pemuka adat. Tapi tidak gratis lho…sekali foto kena charge Rp. 25.000,- …ya pokoke 25 ribu, kayaknya mereka tidak mengenal istilah lain selain 25 ribu, mungkin juga sudah ditetapkan oleh panitia bahwa utk dokumentasi dengan kepala suku harus bayar 25 ribu…mumpung pake kamera digital, aku agak nakal dengan mengambil gambar beberapa kali, sialnya si ketua suku ini menghitung (karena walaupun tidak pakai blits, saat mengambil gambar kamera digital tetap menunjukkan LED Flashing’nya) nah si bapak itu menghitung Flashingnya…hmm terpaksa deh kami mendelete beberapa gambar yang jelek didepan si bapak dan menghitung langsung di kamera digital beberapa hasil yang baik






Selain itu, kami berkesempatan bertemu dengan ibu2 dayak yang mempunyai kuping panjang. Kata orang2 disitu, untuk ibu-ibu dengan kuping panjang didesa pampang ini tinggal 1 orang. So dengan bermodal 25 ribu (tetep, 25 ribu…pokoke 25 ribu, hidup 25 Ribu) aku berkesempatan mengabadikan moment ini.


Karena rombongan tamu yang ditunggu2 lama datangnnya, dan hari semakin sore, terpaksa kami tinggalkan desa pampang untuk kembali ke Balikpapan. Sayang memang gak sempat melihat tarian-tarian khas dayak, mudah2an dilain kesempatan bisa melihat moment ini, dan mudah2an juga bisa mengunjungi desa dayak lainnya.







9 komentar:

THE AFDHAL mengatakan...

postingan narsis :)

yessy muchtar mengatakan...

Ini narsis yang mendidik dan berinformasi namanya Dal, gak cuma jeprey jepret foto kayak si Yessy muchtar itu...basi banget deh tuh blog!


Lah, jadinya kalo mau poto bayar 25 ribu ya...

Sama gue aja say...lo poto sama gue gimana?

tanggung gratiss tiss tiss...gak pake 25 ribu! bwuahuahuahuahuahuaha!!!

BandiT Kesiangan mengatakan...

Ntar ikutan bblogger ngeblog bareng gak?

nh18 mengatakan...

Wah Pulau Kumala itu bagus ya ...
saya tidak di mantenance dengan baik ...

THE AFDHAL mengatakan...

@ Yessy :
Hmmm. gratis aja males foto ama elu
pasti mendominasi...
@ Bandit kesiangan :
wah..undangan ya...
boleh tuh..tp liat tanggal n tempatnya ya..
(kirain gw doang yang nge'blog dihutan ini)
@ OM :
makanya kalo ke borneo jangan dikamar terus...adhal siap mengantarmu
SIAP Komandan

Rusa Bawean™ mengatakan...

wahhh
saya baca sampe abis
gara2 tertarik liat gambarnya yg bagus2
:)

keren yaaa

h a r r y mengatakan...

'keselamatan untuk semua orang, bro'

kadang kurindu juga atmosfir borneo

kiranya nurani menyelamatkan kita dari setiap marabahaya

enjoy bumi indonesia nan permai

Lala Purwono mengatakan...

Kayaknya aku harus segera berani naik pesawat biar bisa dateng ke tempat itu, ya, Al... :)

Boleh, deh, asal akomodasi gratis, Lala mau ah diajak jalan2 ke sana...

Hayah! Emang sapa yang mau bayarin, Jeuuunggg.. hihihihi

Danial mengatakan...

Exotis bgt ya Kebudayaan Kalimantan di tambah pemandangan nya yang indah.