Kamis, 23 April 2009

Leaving

(melo mode on)

Melihat sebuah frame poster bergambar kincir angin....
Tiba-tiba anganku melayang jauh…Teringat masa kecilku dulu…senangnya menikmati beberapa majalah, hanya untuk melihat gambar-gambar indah didalamnya…dan salah satunya, gambar kincir angin dan bunga tulip, indah nian…
saat itu aku bermimpi suatu saat ingin rasanya berada ditempat itu.

AC Milan dan Liverpool, 2 klub sepakbola yang aku gemari....melihat gambar-gambar stadion San Siro Milan dan Stadion Anfield yang berdiri gagah ditengah kota pelabuhan, kota lahirnya band legenda the beatles...membuatku menancapkan angan-angan untuk suatu saat nanti berada di kota itu.

Tapi kerinduan akan Kincir angin dengan bunga tulipnya....kota milan dan liverpool....tidak bisa menandingi kerinduanku akan kota kelahiranku.

Bulan maret kemarin, tepat sudah 15 Tahun aku meninggalkan kota jayapura...
masih teringat jelas Senin, tanggal 14 maret 1994, kota jayapura yang penuh kenangan, kutinggalkan untuk menuju sebuah kota kecil dipulau jawa...Jogjakarta.


14 Maret 1994
Selepas sholat subuh, sebuah perjalanan panjang aku mulai.....

perjalanan panjang dalam hidupku akan kumulai hari ini......

dari rumah yang berada disekitar kota jayapura, menuju bandara sentani...hanya diantar Ayah dan Seorang Kakakku, perjalanan dari rumah menuju bandara sentani selama 45 Menit serasa menyesakkan bagiku....ditemani sinar indah diufuk timur yang menunjukkan keengganan matahari untuk terbit, serasa menyatu dengan perasaanku yang enggan meninggalkan kota ini.

Lamunanku kembali ke hari kemarin...
saat langkah gontai’ku berpamitan dengan teman-teman sekelas...
saat langkah gontaiku menyusuri jalan-jalan indah di Dok V Atas....
saat tatapan sedihku utk terakhir melihat lukisan indah kota jayapura dengan lautnya yang terpampang jelas dari halaman rumah’ku....
Semua itu akan kutinggalkan....

Hari ini, aku akan berangkat menuju kota yogyakarta...
Melintasi batas ruang dan waktu...
Jayapura – Timika – Makassar – Surabaya...
Dalam sehari melewati 3 bagian waktu.....

Belum genap usiaku 15 tahun saat itu...
Aku sudah memulai sebuah perjalanan panjang sendiri...
SENDIRI....
Tanpa ditemani ayah, tanpa ditemani mama, tanpa ditemani kakak-kakak tercinta
Mereka tega melepaskanku sendiri...

Ayah yang sementara berada dikota jayapura, mengurus semua administrasi perpindahannya...mengurus administrasi disekolahku, ...sementara mama pada saat itu sedang berada di tanah suci menunaikan ibadah haji...2 orang kakak’ku yang tetap bertahan dikota ini...dan kakak perempuanku yang menemani ayah mengurus persiapan perpindahan mereka ke jogjakarta.

Hatiku semakin tercabik-cabik...saat pesawat merpati tujuan Timika – Makassar akan berangkat...beberapa orang teman kelas smp, tiba-tiba hadir diruang tunggu...
Rupanya malam itu mereka berkumpul dirumah seorang teman, agar pagi-pagi bisa bersama-sama menyusulku ke bandara dan melepas kepergianku.....
Sahabat’ku, maafkan aku...aku harus pergi...

Selamat tinggal kota jayapura....selamat tinggal ayah...selamat tinggal sahabatku





Jendela pesawat seakan menjadi saksi...betapa berat mata ini memandang kota kelahiranku...kota yang akan aku tinggalkan...

Beberapa menit berada dilangit pulau papua....pesawat harus turun untuk transit di Timika...
Turun dari pesawat...udara dingin dibandara Moses Kilangi menyambutku....udara dingin yang berhembus membawa dinginnya salju di puncak Cartens pegunungan jayawijaya kedalam tulangku...udara dingin yang membuatku badan ini seakan-akan tidak bisa bergerak....

ahhh kenapa udara dingin tidak datang saat aku masih di sentani, agar aku punya alasan untuk tidak meninggalkan kota itu....

Pesawat kembali berangkat.....
Bandara Hasanuddin yang panas terik menyambutkan saat landing di Makassar....
Berbanding terbalik dengan kondisi timika...tapi berbanding lurus dengan keinginanku meninggalkan bandara ini untuk kembali ke jayapura

Empat belas maret seribu sembilan ratus sembilan puluh empat...menjelang sore...
Dengan berganti pesawat...perjalanan kembali kami lanjutkan menuju pulau jawa...surabaya...
Dalam anganku sudah membayangkan...surabaya dan pulau jawa, yang selama ini hanya bisa kunikmati melalui siaran TV..seperti apa pulau ini, seperti apa kota ini...padat, rame, sumpek, udara kotor...pasti sangat kontras dengan indahnya kota jayapura...
Aku harus bersiap menjadi orang udik...
Aku harus bersiap terkagum-kagum dengan perbedaan kondisi ini..
Aku harus siap-siap....

Warna gelap menghiasi langit surabaya...terlihat jelas dari jendela pesawat...
Semakin lama...Sinar-sinar lampu kota surabaya membelalakkan mataku...sinar-sinar dibawah itu membentang luas, terlihat jelas akan menyambut kedatanganku dipulau jawa.....

Dari Bandara Juanda, aku dan Dony, dijemput mas Anto.....dengan menumpang taxi kami menuju rumah saudara mereka untuk menginap malam ini…sebelum esok pagi melanjutkan perjalanan panjang selanjutnya.....

Dony, adalah teman kakak’ku yang akan mengadu nasib di jogjakarta untuk mengikuti seleksi UMPTN dikota gudeg.....ya dari jayapura, Dony dipercayakan oleh Ayah dan kakak’ku untuk membawaku ke jogjakarta....
Mas anto adalah saudara kandung doni, yang khusus datang dari semarang untuk menjemput kami...

Ya...aku dititipkan oleh ayah ke dony, untuk mengantarkanku dengan selamat sampai di jogjakarta...

aku sudah tidak sabar menunggu hari esok...ya esok untuk pertama kalinya aku akan menumpang sebuah alat transportasi yang bernama KERETA API...esok pagi dengan mata telanjangku, aku akan melihat secara langsung KERETA API yang selama ini hanya bisa kulihat dari layar televisi...
Ahhh kerinduanku akan kota jayapura mendadak sirna dengan ketidaksabaranku menanti hari esok...

to be continued.......

8 komentar:

Imelda mengatakan...

Uhhh umur 15 tahun harus merantau sendiri... berat juga ya.

Aku baru tahu dari bu Enny, bahwa Danau Sentani indah ya... Bisa kubayangkan kalau biasa tinggal di daerah yang luas dengan pemandangan indah di mana-mana.... pasti sulit untuk meninggalkannya.

EM

yessy muchtar mengatakan...

Udah 15 tahun yang lalu?
Cepat ya waktu berlalu :)

Semoga kenangan manis itu selalu terkenang ya Om Al...dan menjadi pembelajaran hidup untuk mu..selalu.

Btw...
Jadi SD di sana kan ya?
*EHEM!*

*ampun Omm..Ampun*

Lala Purwono mengatakan...

Hai, Om Al...

Entah kenapa, baca cerita ini yang terasa malah romantis banget... Aneh ya? Kata-katamu itu lho... Syahdu banget!
Ditunggu cerita berikutnya...

nh18 mengatakan...

HHmmm ...
Nekat juga kamu ya ...
wait ...
Yang nekat itu kamu atau Ayahmu ya ...

(pertanyaan selanjutnya adalah ...
apakah aku bisa seperti ayahmu ...)
sepertinya belum

salam saya

THE AFDHAL mengatakan...

@ EM :
yup...berat banget mbak, apalagi buat si bungsu..
emang indah kok..sempat terbayang juga melewatkan hari tua'ku dikota ini :)
@ Yessy :
yup..mungkin bulan madu'ku dikota ini hihihi
yoi..aku SD dijayapura :)
@ Lala :
hihihi...syahdu?? bukan om al banget yak
@ Om NH :
yang nekat tuh sebenarnya Adhal...
yes..aku yang meng'iya-kan usulan ayah :)

wilbertsitu mengatakan...

luar biasa mas perjuangannya..! usia muda sudah merantau dan harus uji nyali di kampung orang.Kenangan yang indah tentunya sesudah sukses saat ini.

salam

Muzda mengatakan...

*Estafet ke Leaving 2*

Anonim mengatakan...

papua is the best...............